Hari Biasa, Pekan Biasa XXVIII Selasa, 13 Oktober 2020

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXVIII

Selasa, 13 Oktober 2020

 


Bacaan Pertama
Gal 4:31b-5:6

“Sunat tidak berarti sama sekali;
yang berarti hanyalah iman yang bekerja melalui cinta kasih.”

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia:

Saudara-saudara,
kita bukanlah anak dari wanita hamba,
melainkan dari wanita yang merdeka.
Sebab Kristus telah memerdekakan kita,
supaya kita benar-benar merdeka.
Karena itu berdirilah teguh
dan jangan mau tunduk lagi di bawah kuk perhambaan.
Sesungguhnya aku, Paulus, berkata kepadamu,
Jika kalian menyunatkan diri,
Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
Sekali lagi kukatakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya,
bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
Kalian lepas dari Kristus,
jika kalian mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat;
kalian hidup di luar kasih karunia!
Sebab oleh Roh dan karena iman,
kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.
Sebab bagi orang yang ada di dalam Kristus Yesus
hal bersunat atau tidak bersunat sama sekali tidak mempunyai arti.
Yang berarti hanyalah iman yang bekerja oleh kasih.

Demikianlah sabda Tuhan.


Mazmur Tanggapan
Mzm 119:41.43.44.45.47.48,R:41a

Refren: Semoga kasih setia-Mu mendatangi aku, ya Tuhan.

*Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku, ya Tuhan,
keselamatan dari pada-Mu itu sesuai dengan janji-Mu,

*Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku,
sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu.

*Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa,
untuk seterusnya dan selamanya.

*Aku hendak hidup dalam kelegaan,
sebab aku mencari titah-titah-Mu.

*Aku hendak bergembira dalam perintah-perintah-Mu yang kucintai itu.

*Aku menaikkan tanganku
kepada perintah-perintah-Mu yang kucintai,
dan aku hendak merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu.


Bait Pengantar Injil
Ibr 4:12

Sabda Allah itu hidup dan penuh daya,
menguji segala pikiran dan maksud hati.


Bacaan Injil
Luk 11:37-41

“Berikanlah sedekah dan semuanya menjadi bersih.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada suatu ketika, selesai mengajar,
Yesus diundang seorang Farisi untuk makan di rumahnya.
Maka masuklah Yesus ke rumah itu, lalu duduk makan.
Tetapi orang Farisi itu heran
melihat Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan.
Lalu Tuhan berkata kepadanya,
“Hai orang-orang Farisi,
kamu membersihkan cawan dan pinggan bagian luar,
tetapi bagian dalam dirimu penuh rampasan dan kejahatan.
Hai orang-orang bodoh,
bukankah yang menjadikan bagian luar,
Dialah juga yang menjadikan bagian dalam?
Maka berikanlah isinya sebagai sedekah,
dan semuanya akan menjadi bersih bagimu.

Demikianlah sabda Tuhan.


Iman membawa keselamatan jiwa

Renungan Injil
Kita lanjutkan renungan tentang mujizat Tuhan, setelah kemarin kita ketahui bahwa kita tidak memiliki cukup kemampuan untuk mengadakan mujizat, hanya Tuhan yang bisa, maka dari itulah kita mesti memohon kepada Allah Bapa agar terjadi mujizat dalam hidup kita.
Jadi, Tuhanlah yang mengadakan mujizat, melalui malaikat-Nya atau melalui siapa saja.

Hari ini kita menerima pencerahan, bahwa ritual rohani tidak mendatangkan mujizat, misalnya tentang mencuci tangan sebelum makan pada Bacaan Injil hari ini, atau tentang bersunat dari Bacaan Pertama.
Bagi kita yang berada di dalam Yesus Kristus, hanya iman yang bekerja didorong oleh kasih Kristus.

Menjalankan ritual-ritual kerohanian tentulah baik adanya, tidak salah.
Berdoa Rosario, Novena, Koronka, dan lain-lain, tentulah baik adanya, tetapi masih belum cukup, ibarat mencuci cawan, baru bagian luarnya saja dan masih perlu membersihkan bagian dalamnya yang justru lebih penting.
Kita rajin berdoa Rosaria dll janganlah supaya dilihat orang sebagai orang yang rajin berdoa, ini sama artinya membersihkan bagian luarnya saja.
Yesus berkata, “Bukankah yang menjadikan bagian luar, Dialah juga yang menjadikan bagian dalam?”

Rupanya inilah yang diminta oleh Yesus, supaya kita membersihkan terlebih dahulu “bagian dalam” kita, barulah pantas untuk memohon mujizat.
Jadi bukan semata-mata tentang cara menyampaikan permohonan, tetapi lebih kepada siapa yang memohon, dan tentu saja tergantung dari apa yang dimohonkan.
Carlo Acustis, yang belakangan ini menjadi viral, sebagai beato termuda, adalah contoh yang pas.
Hidupnya tergolong “apes”, menderita leukemia dan meninggal di usia yang masih sangat muda, di usia 15 tahun.
Berbagai mujizat terjadi terkait dengan Carlo, tapi salah satunya yang layak untuk kita beri perhatian lebih: menjadi orang kudus di jaman sekarang ini adalah mujizat, bukan sesuatu yang mustahil.
Baru kali pertama ada seorang beato bercelana jeans, pakai sneakers dan sweater.

Bagi kita, sesuatu yang mustahil iya tak mungkin terjadi.
Tetapi bagi Allah Bapa kita, yang mustahil menjadi mungkin.


Peringatan Orang Kudus
Santo Eduardus, Raja Inggris dan Pengaku Iman
Eduardus lahir di Islip Oxford, sebuah kota terkenal di Inggris kira-kira pada tahun 1004. Ayahnya, Ethelred, terhitung sebagai salah satu Raja Inggris yang tersohor namanya, sedang ibunya, Emma, adalah Ratu Normandia, Prancis Barat. Semenjak kecil, ia dididik di sekolah biara. Oleh pendidikan para biarawan itu, ia berkembang menjadi seorang putera raja yang berhati mulia, berbakti kepada Allah dan sesama, terutama rakyat kecil. Ketika berusia 10 tahun, ia lari ke tanah air ibunya, karena percobaan pembunuhan atas dirinya oleh bangsa Denmark yang menyerang Inggris. Di sana ia tinggal bersama pamannya, seorang panglima di Normandia, Prancis Barat. Di Normandia, ia tetap hidup suci dan menunjukkan sikap hidup yang terpuji di tengah-tengah segala kejahatan bangsa Normandia. Sebuah ungkapannya yang terkenal ialah: “Lebih baik saya kehilangan kerajaan daripada memperolehnya dengan darah dan pembunuhan.”
Sepeninggal saudaranya Hardecanute, Eduardus terpilih mengganti sebagai raja pada tahun 1042. Sebetulnya ia sendiri tidak suka menjadi raja, tetapi rakyat sangat mencintainya dan mendesak dia menjadi raja. Ia menerima jabatan itu dengan penuh pengorbanan dan tanggungjawab. Sebagai raja ia berusaha keras meniadakan semua kesan permusuhan, memperhatikan nasib kaum miskin dan rakyat kecil dan membantu perkembangan Gereja. Untuk menyemarakkan lagi penghayatan iman umat ia merombak semua kuil menjadi gereja bagi upacara-upacara suci. Walaupun ia mempunyai istri, namun ia hidup penuh pantang bersama Edith istrinya. Perhatiannya kepada para miskin begitu besar sehingga ia dijuluki ‘Bapa Kaum Miskin’.
Dalam Gereja, ia dikenal sangat berjasa. Ia mendirikan banyak gereja dan berusaha meningkatkan semangat iman umat. Ia sendiri rajin mengikuti Kurban Misa meskipun banyak kesibukannya. Ia mendirikan biara Westminster. Orang menjuluki dia ‘The Confessor’ artinya ‘Pengaku Iman’. Ia sangat membantu Gereja dalam menyebarkan ajaran Kristen. Ia wafat pada tanggal 13 Oktober 1066. Tahun 1677dinyatakan sebagai ‘santo; dua tahun kemudian jenazahnya dipindahkan ke biara Westminster oleh Santo Thomas Becket


Santa Eustokia OSB, Pengaku Iman
Eustokia lahir sebagai anak haram seorang suster yang tergoda. Ia sering sakit dan kerasukan roh jahat. Tetapi karena berpegang teguh pada kerahiman Tuhan, lagi pula sangat sabar dan taat pada bimbingan bapa pengakuannya, suster di Padua, Italia ini menjadi suci. Jenazahnya tetap utuh sampai sekarang. Ia meninggal dunia pada tahun 1469.

Diambil dari:
http://liturgia-verbi.blogspot.co.id/

Leave a Reply

*

captcha *