Hari Biasa, Pekan Biasa XXVI Rabu, 4 Oktober 2017

Liturgia Verbi (A-I)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXVI

Rabu, 4 Oktober 2017

PW S. Fransiskus dari Assisi



Bacaan Pertama
Neh 2:1-8

“Jika Raja menganggap baik, utuslah hamba ke kota makam leluhur hamba,
untuk membangunnya kembali.”

Pembacaan dari Kitab Nehemia:

Pada bulan Nisan
pada tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta,
ketika menjadi tugasku menyediakan anggur,
aku mengangkat anggur dan menghidangkannya kepada raja.
Karena aku kelihatan sedih,
yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja,
bertanyalah raja kepadaku,
“Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit?
Engkau tentu sedih hati.”

Aku lalu menjadi sangat takut.
Jawabku kepada raja, “Hiduplah raja untuk selamanya!
Bagaimana mukaku tidak akan muram,
kalau kota tempat makam leluhurku telah menjadi reruntuhan
dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?”
Kata raja kepadaku, “Jadi, apa yang kauinginkan?”

Aku berdoa kepada Allah semesta langit,
kemudian menjawab kepada raja,
“Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini,
utuslah hambamu ini ke Yehuda, ke kota makam leluhur hamba,
supaya hamba ini membangunnya kembali.”

Maka bertanyalah raja kepadaku,
sedang permaisuri duduk di sampingnya,
“Berapa lama engkau akan pergi,
dan bilamana engkau akan kembali?”
Dan raja berkenan mengutus aku
sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya.
Maka berkatalah aku kepada raja,
“Jika Raja menganggap baik,
berikanlah aku surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat,
supaya mereka memperbolehkan aku lewat
sampai aku tiba di Yehuda.
Juga sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman Raja,
supaya dia memberi aku kayu
untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang
di benteng Bait Suci,
untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami.”
Dan raja mengabulkan permintaanku,
karena tangan Allahku yang murah melindungi aku.

Demikianlah sabda Tuhan.


Mazmur Tanggapan
Mzm 137:1-6,R:6a

Refren: Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku,
bila aku tidak mengingat engkau.

*Di tepi sungai-sungai Babel,
di sanalah kita menangis apabila kita mengingat Sion.
Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu
kita menggantungkan kecapi kita.

*Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita
meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian,
dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita,
“Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!”

*Bagaimana mungkin kita menyanyikan nyanyian Tuhan di negeri asing?
Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem,
biarlah menjadi kering tangan kananku!

*Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku,
jika aku tidak mengingat engkau,
jika aku tidak menjadikan Yerusalem puncak sukacitaku!


Bait Pengantar Injil
Flp 3:8-9

Segala sesuatu kuanggap sebagai sampah,
agar aku memperoleh Kristus dan bersatu dengan-Nya.


Bacaan Injil
Luk 9:57-62

“Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Sekali peristiwa,
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan,
datanglah seorang di tengah jalan, berkata kepada Yesus
“Aku akan mengikut Engkau, ke mana pun Engkau pergi.”

Yesus menjawab,
“Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang,
tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat
untuk meletakkan kepala-Nya.”
Lalu kepada orang lain Yesus berkata, “Ikutlah Aku.”
Berkatalah orang itu,
“Izinkanlah aku pergi dahulu, menguburkan bapaku.”
Tetapi Yesus menjawab, “Biarlah orang mati mengubur orang mati;
tetapi engkau, pergilah,
dan wartakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.”

Dan seorang lain lagi berkata, “Tuhan, aku akan mengikuti Engkau,
tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.”
Tetapi Yesus berkata,
“Setiap orang yang siap untuk membajak,
tetapi menoleh ke belakang,
tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Demikianlah sabda Tuhan.


Ikutlah Aku
Renungan Injil
Berikut renungan saya pada pendalaman iman di salah satu persekutuan doa di Bali, yang diselenggarakan pada hari Rabu, 4 Oktober 2017, tentang kesetiaan kita kepada iman dan kasih Kristus.

Bacaan Injil hari ini menuliskan tentang sikap mengikuti Yesus,
dan kita akan merenungkan salah satu dari sikap itu, yakni tentang kesetiaan.
Namun sebelumnya, marilah kita amati tiga orang dengan sikap yang berbeda dalam menanggapi rencana hendak mengikuti Yesus.

Yang pertama bertekad hendak mengikuti Yesus tanpa syarat.
Ia akan mengikuti Yesus ke mana pun Yesus pergi.
Ini tentu merupakan kesetiaan yang tinggi, keteguhan hati dan ketaatan yang sangat baik.
Tetapi rupanya Yesus memandang berbeda terhadap orang ini,
“Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang,
tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat
untuk meletakkan kepala-Nya.”
Jika tujuan hendak mengikuti Yesus itu karena alasan kemakmuran, kekuasaan atau ketenaran,
maka itu keliru.
Serigala saja mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, sedangkan Yesus bahkan tak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya.
Yesus menolak orang ini, walaupun orang ini telah menyatakan kebulatan tekadnya untuk mengikuti Yesus.
Mengapa demikian?
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” [Yoh 15:16]

Lalu orang yang kedua.
Orang ini dipilih dan dipanggil oleh Yesus untuk mengikuti Dia,
tetapi orang ini mengajukan syarat, karena ada kebutuhan yang sangat mendesak, yakni hendak menguburkan bapaknya terlebih dahulu.
Tetapi Yesus menjawab, “Biarlah orang mati mengubur orang mati.”
Menguburkan ayah yang meninggal dunia tentulah tugas anak yang berbakti, tetapi mana yang lebih penting: mengikuti Yesus untuk menyelamatkan banyak orang atau berbakti dan menunjukkan kasih kepada orangtua?
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,
maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” [Mat 6:33]

Orang yang ketiga, juga dengan syarat ringan dan masuk akal, berpamitan dahulu kepada keluarga sebelum pergi mengikuti Yesus.
Permintaan orang ini sangat wajar, berpamitan supaya kelak ia tidak dicari-cari oleh keluarganya, tetapi Yesus berkata,
“Setiap orang yang siap untuk membajak,
tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Coba saja kita bayangkan, seandainya Pastor Paroki lebih mendahulukan keluarganya dibandingkan mendahulukan umat, apakah dapat diterima?
“Setiap orang yang karena nama-Ku
meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya,
anak-anak atau ladangnya,
akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.”  [Mat 19:29]

Nah, belajar dari ketiga contoh tadi, kita sendiri bagaimana?
Adakah kita sama dengan salah satu sikap di atas, ataukah kita punya sikap lain?
Kita hadir di sini tentulah karena telah dipilih dan dipanggil oleh Kristus.
Lalu bagaimana kita menanggapi panggilan kita itu?
Apakah kita menjawab “Ya” tetapi menyisakan se gudang alasan untuk mendahulukan kepentingan lain?
Saya teringat perkataan Petrus saat perjamuan malam,
“Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!”
Toh akhirnya sampai tiga kali ia menyangkal Yesus.
Untuk apa kita melontarkan janji atau tekad yang berat kalau pada akhirnya akan kita sangkal?

Marilah sekarang kita melihat kesetiaan kita sebagai pengikut Kristus.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.
Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil,
ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”  [Luk 16:10]
Mendengarkan Injil Tuhan saja masih belum cukup,
kita mesti melaksanakannya.
Jika dalam perkara-perkara kecil saja kita sudah kesulitan melaksanakan perintah Injil,
bagaimana kita sanggup untuk setia dalam perkara-perkara yang lebih besar.
Mengampuni kesalahan orang lain, bisa menjadi mudah atau bisa dibuat susah, tergantung kita.
Apakah kita setia kepada-Nya
kalau setiap hari kita mendaraskan doa Bapa Kami tetapi sulit untuk mengampuni orang lain?
“Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”  [2Tim 2:13]
“Jadi bagaimana,
jika di antara mereka ada yang tidak setia,
dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah?”   [Rom 3:3]

Sesungguhnya apa yang menjadi penyebab kita tidak setia kepada-Nya?
Jika kita tidak setia kepada Allah Bapa kita,
artinya ada pihak lain yang membuatnya demikian.
Keduniawian, yang dijadikan alat oleh iblis untuk membuat kita tidak setia kepada Tuhan.
Mamon adalah iblis itu.
“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.
Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain,
atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.
Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”  [Mat 6:24]

Nampaknya kita mesti memilih salah satu di antaranya, tidak bisa sekaligus kedua-duanya.
Jika hendak setia kepada Kristus, maka berusahalah sekuat tenaga untuk menolak Mamon.
“Hai kamu, orang-orang yang tidak setia!
Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah?
Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.”  [Yak 4:4]

Maka, relalah kita menderita oleh karena ulah iblis,
tetapi janganlah menderita oleh karena berpegah teguh kepada kesetiaan akan Tuhan.
“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!
Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara
supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari.
Hendaklah engkau setia sampai mati,
dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”   [Why 2:10]

Mungkin usia kita masih muda,
tetapi tetap berpeluang untuk menjadi dewasa dalam urusan kesetiaan.
Apalagi kalau kita sudah tidak lagi muda,
masak masih tetap muda dalam urusan kesetiaan?
Beginilah yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada Timotius,
“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda.
Jadilah teladan bagi orang-orang percaya,
dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu,
dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”  [1Tim 4:12]

Kesetiaan bukan hanya kita daraskan di dalam doa,
lebih penting lagi untuk mewujudkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Ketaatan kita akan rambu-rambu lalu lintas bukan karena takut kena tilang polisi,
melainkan karena kita menginginkan keselamatan, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.
Keteguhan hati untuk tetap berpegang kepada kesetiaan terhadap Allah Bapa adalah integritas kita.
Kesetiaan di dalam iman dan kasih Kristus adalah satu kesatuan yang utuh,
dan keduanya mesti kita wujudkan dalam hidup kita.
Amin.


Peringatan Orang Kudus
Santo Fransiskus Asisi, Pengaku Iman
Giovanni Francesco Bernardone lahir di Asisi, daerah pegunungan Umbria, Italia Tengah pada tahun 1182. Ayahnya, Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya; sedang ibunya Yohana Dona Pica, seorang puteri bangsawan picardia, Prancis. Ia dipermandikan dengan nama ‘Giovanni Francesco Bernardone’ tetapi kemudian lebih dikenal dengan nama ‘Francesco’ karena kemahirannya berbahasa Prancis yang diajarkan ibunya.
la sangat dimanjakan ayahnya sehingga berkembang menjadi seorang pemuda yang suka berfoya-foya dan pemboros. Pada umur 20 tahun ia bersama teman-temannya terlibat sebagai prajurit dalam perang saudara antara Asisi dan Perugia. Dalam pertempuran itu ia ditangkap dan dipenjarakan selama 1 tahun hingga jatuh sakit setelah dibebaskan. Pengalaman pahit itu menandai awal hidupnya yang baru. Ia tidak tertarik lagi dengan usaha dagang ayahnya dan corak hidup mewahnya dahulu. Sebaliknya ia lebih tertarik pada corak hidup sederhana dan miskin sambil lebih banyak meluangkan waktunya untuk berdoa di gereja, mengunjungi orang-orang di penjara dan melayani orang-orang miskin dan sakit. Sungguh suatu keputusan pribadi yang datang di luar bayangan orang sedaerahnya dan orangtuanya.
Tak lama kemudian ketika sedang berdoa di gereja San Damian di luar kota Asisi, ia mendengar suatu suara keluar dari Salib Yesus: “Fransiskus, perbaikilah rumahku yang hampir rubuh ini!” Fransiskus tertegun sebentar lalu dengan yakin mengatakan bahwa suara itu adalah suara Yesus sendiri. Segera ia lari ke rumah. Tanpa banyak pikir dia mengambil setumpuk kain mahal dari gudang ayahnya lalu menjual kain-kain itu. Uang basil penjualan kain itu diberikan kepada pastor paroki San Damian untuk membiayai perbaikan gereja itu. Tetapi pastor menolak pemberiannya itu.
Ayahnya marah besar lalu memukul dan menguncinya di dalam sebuah kamar. Ibunya jatuh kasihan lalu membebaskan dia dari kurungan itu. Setelah dibebaskan ibunya, ia kembali ke gereja San Damian. Ayahnya mengikuti dia ke sana, memukulnya sambil memaksanya mengembalikan uang hasil penjualan kain itu. Dengan tenang ia mengatakan bahwa uang itu sudah diberikan kepada orang-orang miskin. Ia juga tidak mau kembali lagi ke rumah meskipun ayahnya menyeret pulang. Ayahnya tidak berdaya lalu meminta bantuan Uskup Asisi untuk membujuk Fransiskus agar mengembalikan uang itu. Fransiskus patuh pada Uskup. Di hadapan Uskup Asisi, ia melucuti pakaian yang dikenakannya sambil mengatakan bahwa pakaian-pakaian itu pun milik ayahnya. Dan semenjak itu hanya Tuhanlah yang menjadi ayahnya. Sang Uskup memberikan kepadanya sehelai mantel dan sebuah ikat pinggang. Inilah pakaian para gembala domba dari Umbria, yang kemudian menjadi pakaian para biarawan Fransiskus.
Fransiskus tidak kecut apalagi sedih hati dengan semua yang terjadi atas dirinya. Ia bahkan dengan bangga berkata: “Nah, sekarang barulah aku dapat berdoa sungguh-sungguh “Bapa kami yang ada di surga.” Dan semenjak itu Sabda Yesus “Barangsiapa yang mau mengikuti Aku, ia harus menjual segala harta kekayaannya dan membagikannya kepada orang miskin” menjadi dasar hidupnya yang baru. Sehari-harian ia mengemis sambil berkotbah kepada orang-orang yang ada di sekitar gereja San Damiano. Ia menolong orang-orang miskin dan penderita lepra dengan uang yang diperolehnya setiap hari. Ia sendiri hidup miskin. Kalau ia berbicara tentang nasehat-nasehat Injil, ia menggunakan bahasa lagu-lagu cinta yang populer dan bahasa-bahasa puitis. Ia sendiri rajin menyusun puisi-puisi dan selalu membacakannya keras­keras kalau ia berjalan jalan.
la disebut orang sekitar dengan nama “Poverello” (=Lelaki miskin). Cara hidupnya, yang miskin tetapi selalu gembira dan penuh cinta kepada orang-orang miskin dan sakit, menarik minat banyak pemuda. Pada tahun 1209, ada tiga orang bergabung bersamanya: Bernardus Guantevale, seorang pedagang kaya; Petrus Katana, seorang pegawai, dan Giles, seorang yang sederhana dan bijak. Harta benda mereka dipakai untuk melayani kaum miskin dan orang-orang sakit. Bersama denigan tiga orang itu, Fransiskus membentuk sebuah komunitas persaudaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah ordo yaitu “Ordo Saudara-saudara Dina”, atau “Ordo Fransiskan.” Tak ketinggalan wanita-wanita. Klara, seorang gadis Asisi meninggalkan rumahnya dan bergabung juga bersamanya. Bagi Klara dan kawan-kawannya, Fransiskus mendirikan sebuah perkumpulan khusus. Itulah awal dari Kongregasi Suster-suster Fransiskan atau Ordo Kedua Fransiskan.
Fransiskus ditahbiskan menjadi diakon dan mau tetap menjadi seorang diakon sampai mati. Ia tidak mau ditahbiskan menjadi imam. Lebih dari orang-orang lain, Fransiskus berusaha hidup menyerupai Kristus. Ia. menekankan kemiskinan absolut bagi para pengikutnya waktu itu. Sebagai tambahan pada kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaat­an, ia menekankan juga penghayatan semangat cinta persaudaraan, dan kesederhanaan hidup. Ordo Benediktin yang sudah lama berdiri memberi mereka sebidang tanah.
Demi sahnya komunitas yang dibentuknya, dan aturan hidup yang disusunnya, ia berangkat ke Roma pada tahun 1210 untuk meminta restu dari Sri Paus Innosensius III (1198-1216). Mulanya Sri Paus menolak. Tetapi pada suatu malam dalam mimpinya, Paus melihat tembuk-tembok Basilik Santo Yohanes Lateran berguncang dan Fransiskus sendiri menopangnya dengan bahunya. Pada waktu pagi, Paus langsung memberikan restu kepada Fransiskus tanpa banyak bicara.
Lagi-lagi Ordo Benediktin menunjukkan perhatiannya kepada Fransiskus dan kawan-kawannya. Kapela Maria Ratu para Malaekat di Portiuncula, milik para rahib Benediktin, kira-kira dua mil jauhnya dari kota Asisi, diserahkan kepada Fransiskus oleh Abbas Ordo Benediktin. Fransiskus gembira sekali. Ia mulai mendirikan pondok-pondok kecil dari kayu di sekitar kapela itu sebagai tempat tinggal mereka yang pertama. Kemudian Chiusi, seorang tuan tanah di daerah itu, memberikan kepadanya sebidang tanah di atas bukit La Verna, di bilangan bukit-bukit Tuscan. La Verna kemudian dijadikannya sebagai tempat berdoa dan bermeditasi.  Semangat kerasulannya mulai membara dari hari ke hari. Dalam hatinya mulai tumbuh keinginan besar untuk mempertobatkan orang­orang Muslim di belahan dunia Timur. Ia mulai menyusun rencana perjalanan ke Timur. Pada musim gugur tahun 1212, ia bersama seorang kawannya berangkat ke Syria. Tetapi nasib sial menghadang mereka di pertengahan jalan. Kapal yang mereka tumpangi karam dan mereka terpaksa kembali lagi ke Italia. Tetapi ia tidak putus asa. Ia mencoba lagi dan kali ini ia mau pergi ke Maroko melalui Spanyol. Tetapi sekali lagi niatnya tidak bisa terlaksana karena ia jatuh sakit. Pada bulan Juni 1219, ia sekali lagi berangkat ke belahan dunia Timur bersama 12 orang temannya. Mereka mendarat di Damaieta, delta sungai Nil, Mesir. Di sana mereka menggabungkan diri dengan pasukan Perang Salib yang berkemah di sana. Nasib sial menimpa dirinya lagi. Ia ditawan oleh Sultan Mesir. Saat itu menjadi suatu peluang baik baginya untuk berbicara dengan Sultan Islam itu. Sebagai tawanan ia minta izin untuk berbicara dengan Sultan Mesir. Ia. berharap dengan pertemuan dan pembicaraan dengan Sultan, ia dapat mempertobatkannya. Sultan menerima dia dengan baik sesuai adat sopan santun ketimuran. Namun pertemuan itu sia-sia saja. Sultan tidak bertobat dan menyuruhnya pulang kepada teman-temannya di perkemahan setelah mendengarkan kotbahnya.
Setelah beberapa lama berada di Tanah Suci, Fransiskus dipanggil pulang oleh komunitasnya. Selama beberapa tahun, ia berusaha menyempurnakan aturan hidup komunitasnya. Selain itu ia mendirikan lagi Ordo Ketiga Fransiskan. Ordo ini dikhususkan bagi umat awam yang ingin mengikuti cara hidup dan ajarannya sambil tetap mengemban tugas sebagai bapa-ibu keluarga atau tugas-tugas lain di dalam masyarakat. Para anggotanya diwajibkan juga untuk mengikrarkan kaul kemiskinan dan kesucian hidup. Kelompok ini lazim disebut kelompok “Tertier”. Tugas pokok mereka ialah melakukan perbuatan-perbuatan baik di dalam keluarga dan masyarakat dan mengikuti cara hidup Fransiskan tanpa menarik diri dari dunia.
Ordo Fransiskan ini berkembang dengan pesat dan menakjubkan. Dalam waktu relatif singkat komunitas Fransiskan bertambah banyak jumlahnya di Italia, Spanyol, Jerman dan Hungaria. Pada tahun 1219 anggotanya sudah 5000 orang. Melihat perkembangan yang menggembirakan ini maka pada tahun 1222, Paus Honorius III (1216-1227) secara resmi mengakui komunitas religius Fransiskan beserta aturan hidupnya.
Pada tahun 1223, Fransiskus merayakan Natal di daerah Greccio. Upacara malam Natal diselenggarakan di luar gereja. Dia rnenghidupkan kembali gua Betlehem dengan gambar-gambar sebesar badan. Penghormatan kepada Kanak-kanak Yesus yang sudah menjadi suatu kebiasaan Gereja dipopulerkan oleh Fransiskus bersama para pengikutnya.
Pada umur 43 tahun ketika sedang berdoa di bukit La Verna sekonyong-konyong terasa sakit di badannya dan muncul di kaki dan tangan serta lambungnya luka-luka yang sama seperti luka-luka Yesus. Itulah ‘stigmata’ Fransiskus. Luka-luka itu tidak pernah hilang sehingga menjadi sumber rasa sakit dan kelemahan tubuhnya. Semenjak peristiwa ajaib itu, Fransiskus mulai mengenakan sepatu dan mulai menyembunyikan tangan-tangannya di balik jubahnya.
Fransiskus dikagumi orang-orang sezamannya bahkan hingga kini karena berbagai karunia luar biasa yang dimilikinya. Ia dijuluki “Sahabat alam semesta” karena cintanya yang besar dan dalam terhadap alam ciptaan Tuhan. Semua ciptaan menggerakkan jiwanya untuk bersyukur kepada Tuhan dan memuliakan keagunganNya. Seluruh alam raya beserta isinya benar-benar berdamai dengan Fransiskus. Ia dapat berbincang-bincang dengan semua ciptaan seperti layaknya dengan manusia. Semua disapanya sebagai ‘saudara': saudara matahari, saudari bulan, saudara burung-burung, dll.  Ia benar-benar menjadi sahabat alam dan binatang.
Lama kelamaan kesehatannya semakin menurun dan pandangan matanya mulai kabur. Dalam kondisi itu, ia menyusun karyanya yang besar “Gita Sang Surya.” Salah satu kidung di dalamnya, yang melukiskan tentang ‘keindahan saling mengampuni’ dipakainya untuk mendamaikan Uskup dengan Penguasa Asisi yang sedang bertikai. Ia diminta untuk mendamaikan keduanya. Untuk itu ia menganjurkan agar perdamaian itu dilakukan di halaman istana uskup bersama beberapa imam dan pegawai kota. Ia sendiri tidak ikut serta dalam pertemuan perdamaian itu. Namun ia mengutus dua orang rekannya ke sana dengan instruksi untuk menyanyikan lagu “Gita Sang Surya”, yang telah ia tambahi dengan satu bagian tentang ‘keindahan saling mengampuni’. Ketika mendengar nyanyian yang dibawakan dengan begitu indah oleh dua orang biarawan Fransiskan itu, Uskup dan Penguasa Asisi itu langsung berdamai tanpa banyak bicara.
Menjelang tahun-tahun terakhir hidupnya, ia mengundurkan diri. Sebab, di antara saudara-saudarariya seordo terjadilah selisihpaham mengenai penghayatan hidup miskin seperti yang dicintai dan dihayatinya sendiri. Pada tanggal 3 Oktober 1226 dalam umur 44 tahun, Fransiskus meninggal dunia di kapela Portiuncula. Dua tahun berikutnya, ia langsung dinyatakan ‘kudus’ oleh Gereja.
Fransiskus adalah orang kudus besar yang dikagumi Gereja dan seluruh umat hingga kini. Kebesarannya terletak pada dua hal berikut: kegembiraannya dalam hidup yang sederhana, menderita lapar dan sakit, dan pada cintanya yang merangkul seluruh ciptaan. Ketika Gereja menjadi lemah dan sakit karena lebih tergiur dengan kekayaan dan kekuasaan duniawi, Fransiskus menunjukkan kembali kekayaan iman Kristen dengan menghayati sungguh-sungguh nasehat-nasehat dan cita-cita Injil yang asli: kerendahan hati, kemiskinan dan cinta.!


Santo Kuintinus, Martir
Tak ada banyak cerita tentang kehidupan masa muda Kuintinus. Yang diketahui hanyalah bahwa Kuintinus, yang disebut juga Kuentin, adalah seorang martir abad ketiga yang dibunuh karena giat mewartakan Injil kepada orang-orang kafir.
Menurut legenda, ia bersama Santo Lusianus dari Beauvais berangkat dari Roma ke Prancis untuk mewartakan Injil di sana. Sesampai di Prancis mereka berpisah di kota Amiens. Kuintinus tetap tinggal di Amiens dan giat mewartakan Injil kepada penduduk kota itu. Kotbah dan caranya mengajar sangat menarik sehingga ia berhasil mentobatkan banyak orang, dan mempermandikan mereka. Tetapi keberhasilannya itu menyebabkan ketidakpuasan penguasa setempat. Ia ditangkap lalu dipenjarakan. Konon ia dibebaskan secara ajaib oleh seorang malaekat Tuhan dan kembali giat mengajar para pengikutnya. Beberapa hari kemudian ia ditangkap lagi dan dibawa ke kota yang sekarang dinamakan kota Sint Kuentin, Prancis. Di sana ia dipenggal kepalanya pada tahun 570.

 

 
Diambil dari:
http://liturgia-verbi.blogspot.co.id/
https://www.facebook.com/groups/liturgiaverbi

Leave a Reply

*

captcha *