Hari Biasa, Pekan Biasa XXIII Jumat, 15 September 2017

Liturgia Verbi (A-I)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXIII

Jumat, 15 September 2017

PW S.P. Maria Berdukacita



Bacaan Pertama
Ibr 5:7-9

“Kristus telah belajar menjadi taat,
dan Ia menjadi pokok keselamatan abadi.”

Pembacaan dari Surat kepada Orang Ibrani:

Saudara-saudara,
dalam hidup-Nya sebagai manusia,
Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan
dengan ratap tangis dan keluhan
kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut.
Dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.
Akan tetapi, sekalipun Anak Allah, Yesus telah belajar menjadi taat;
dan ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya.
Dan sesudah mencapai kesempurnaan,
Ia menjadi pokok keselamatan abadi
bagi semua orang yang taat kepada-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.


Mazmur Tanggapan
Mzm 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20,R:17b

Refren: Selamatkanlah aku, ya Tuhan,
oleh kasih setia-Mu.

*Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung,
janganlah sekali-kali aku mendapat malu.
Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu,
sendengkanlah telinga-Mu kepadaku,
bersegeralah melepaskan daku.

*Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung,
dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku!
Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku;
oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun
dan membimbing aku.

*Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring
yang dipasang orang terhadap aku,
sebab Engkaulah tempat perlindunganku.
Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku;
sudilah membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia.

*Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya,
aku berkata “Engkaulah Allahku!”
Masa hidupku ada dalam tangan-Mu,
lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku
dan bebaskanlah aku dari tangan orang-orang yang mengejarku.

*Alangkah limpahnya kebaikan-Mu
yang telah Kausimpan bagi orang yang takwa kepada-Mu,
yang telah Kaulakukan di hadapan manusia
bagi orang yang berlindung pada-Mu!

ATAU MAZMUR LAIN:
Mzm 16:1.2a.5.7-8.11
Refrein: Ya Tuhan, Engkaulah milik pusakaku.

*Jagalah aku, ya Allah,
sebab pada-Mu aku berlindung.
Aku berkata kepada Tuhan, “Engkaulah Tuhanku,
Ya Tuhan, Engkaulah bagian warisan dan pialaku,
Engkau sendirilah
yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

*Aku memuji Tuhan, yang telah memberi nasihat kepadaku,
pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku.
Aku senantiasa memandang kepada Tuhan;
karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

*Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan;
di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah,
di tangan kanan-Mu ada nikmat yang abadi.


Bait Pengantar Injil

Berbahagialah engkau, Sang Perawan Maria,
sebab di bawah salib Tuhan engkau menjadi martir
tanpa menumpahkan darahmu.


Bacaan Injil
Yoh 19:25-27

“Inilah anakmu! – Inilah ibumu!”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Waktu Yesus bergantung di salib,
didekat salib itu berdirilah ibu Yesus
dan saudara ibu Yesus,
Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
Ketika Yesus melihat ibu-Nya
dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya,
berkatalah Ia kepada ibu-Nya,
“Ibu, inilah, anakmu!”
Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya,
“Inilah ibumu!”
Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.

Demikianlah sabda Tuhan.

ATAU BACAAN LAIN:
Luk 2:33-35

“Suatu Pedang akan menembus jiwamu sendiri”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:
Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Suci,
mereka amat heran
mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus.
Lalu Simeon memberkati mereka,
dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu,
“Sesungguhnya Anak ini ditentukan
untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel
dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
— dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri —
supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Demikianlah sabda Tuhan.


Santa Perawan Maria berdukacita
Renungan Injil
Hari ini kita memperingati SP Maria Berdukacita, atau juga disebut “Mater Dolorosa”, untuk mengenang Bunda Maria yang sepanjang hidupnya mengalami banyak kedukaan.
Kedukaan Bunda Maria dikenang sebagai tujuh kedukaan, yakni mulai dari nubuat Simeon sampai ketika Yesus dimakamkan.

Bacaan Pertama untuk peringatan ini diambil dari surat kepada orang Ibrani, yang berisikan ketaatan kepada Tuhan yang telah ditunjukkan oleh Yesus Kristus.
Taat atau patuh kepada perintah Tuhan itu tentu baik.
Namun demikian, menjadi penting untuk menyadari apa alasan atau apa yang melatar-belakangi kita menjadi taat.
Sebagai ilustrasi, di jalan kita mentaati peraturan lalu-lintas, ini baik.
Tetapi apa yang membuat kita menjadi taat, apakah karena kita memikirkan keselamatan diri sendiri dan juga keselamatan orang lain?
Ataukah kita menjadi taat karena takut ditilang polisi, yang artinya kalau tidak ada polisi boleh dilanggar?
Nah, terhadap perintah Tuhan, apa yang membuat kita menjadi taat?
Apakah karena malu dengan orang-orang ataukah karena “terpaksa” taat?
Ataukah karena kita mengasihi Tuhan dan tidak ingin mengecewakan-Nya?

Yesus adalah teladan dalam hal ketaatan.
Sekali pun mampu untuk melanggar dan menghindari resiko kalau tidak taat, tetapi Yesus tetap taat dan tidak mau melanggar.
Sementara kita, kalau tidak ada resiko yang merugikan apa gunanya taat?

Dan yang lebih istimewa lagi dari Yesus Kristus, ketaatan-Nya tetap kokoh sekali dalam situasi yang sulit, berkesusahan atau pun sedang menderita.
Seringkali kita menganggap boleh tidak taat karena kesusahan atau penderitaan, misalnya: bagaimana kita bisa berbuat baik kepada orang yang jelas-jelas telah menindas atau menyakiti kita?
Atau, bagaimana kita bisa membantu orang lain kalau kita sendiri sedang berkesusahan?

Marilah kita belajar dari Yesus Kristus untuk mencapai kesempurnaan dalam hal ketaatan, yakni tetap taat sekali pun dalam situasi yang sulit atau berkesusahan.


Peringatan Orang Kudus
Santa Katarina Fieschi dari Genoa, Janda
Di antara sekian banyak wanita kudus yang menyandang nama Katarina, Katarina Fieschi patut diberi julukan “Pencinta Jiwa-jiwa di Api Penyucian.” Katarina berasal dari sebuah keluarga bangsawan kaya raya. Ia cantik sekali dan berpendirian tegas.
Pada umur 13 tahun, ia masuk sebuah ordo yang keras sekali aturannya. Permohonannya ditolak karena umurnya dianggap belum memenuhi syarat. Tiga tahun kemudian, ia menikah dengan Yuliano Adorno, pemuda kebanggaan orangtuanya.
Awal perkawinan mereka tidak begitu bahagia. Yuliano, acuh tak acuh dan sering tidak menghiraukannya. Lima tahun lamanya, ia menanggung penderitaan batin yang luar biasa karena ulah suaminya Yuliano. Tetapi ia menanggung semuanya itu dengan sabar dan tawakal. Secara ekonomi mereka tidak kekurangan apa pun karena harta warisan orangtuanya berlimpah-limpah. Ia hidup berfoya-foya dan menikmati kesenangan duniawi yang tak ada taranya. Namun batinnya tidak tenteram.
Pada usia 36 tahun, ia melepaskan semua kesenangan duniawi itu dan bertobat. Ia mulai lebih banyak berdoa untuk memohon bimbingan Tuhan. Suaminya Yuliano pun ikut bertobat. Keduanya mulai mengenyam suatu hidup yang bahagia dalam cinta dan cita-cita yang luhur untuk mengabdi Tuhan. Mereka pindah ke sebuah rumah yang sederhana dan berkarya di sebuah rumah sakit secara cuma-cuma.
Yuliano meninggal dunia pada tahun 1497. Katarina dengan tekun melanjutkan karya amal itu sambil tetap menjalin hubungan dengan Tuhan dengan doa dan matiraga. Tuhan memperhatikan hambanya dan memberinya banyak karunia istimewa dan kehidupan mistik yang tinggi. Perhatiannya yang lebih besar dicurahkan kepada jiwa-jiwa di api penyucian karena ia berpendapat bahwa penderitaan mereka jauh lebih besar mengingat mereka dianggap belum berkenan kepada Tuhan secara sempurna. Katarina Fieschi meninggal dunia pada tahun 1510.


Maria, Mater Dolorosa
Hari ini juga Gereja mengenangkan ‘Kedukaan Santa Perawan Maria’. Banyak sekali penderitaan yang dialami Maria sepanjang perjalanan hidupnya bersama Yesus, Anaknya dalam karya agung penyelamatan umat manusia dari dosa. Maria menyertai Yesus hingga akhir hayatNya di bawah kaki salib. Oleh karena itu Gereja menamai Maria ‘Mater Dolorosa’, Bunda Dukacita, dan ‘Ratu para Martir’.
Seluruh penderitaan Maria diringkas Gereja dalam 7 jenis kedukaan yang diambil dari 7 peristiwa berikut ini:
1. Kedukaan sewaktu Simeon meramalkan apa yang akan terjadi atas diri Yesus, Anaknya sewaktu ia bersama Yusuf mempersembahkan Yesus di Bait Allah.
2. Kedukaan yang dialaminya sewaktu pengungsian ke Mesir.
3. Kedukaan sewaktu ia bersama Yusuf mencari Yesus di Yerusalem.
4. Kedukaan sewaktu bertemu dengan Yesus di jalan salib.
5. Kedukaan sewaktu Yesus disalib dan wafat.
6. Kedukaan sewaktu Yesus dibaringkan di pangkuannya.
7. Kedukaan sewaktu Yesus dimakamkan.
Maria menanggung semua penderitaan itu dengan tabah dan penuh iman karena ia sendiri telah mengatakan dengan bebas kepada malaekat Allah: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”


Santo Nikomedes, Martir
Sangat sedikit keterangan tentang riwayat Nikomedes, meskipun Gereja menghormatinya sebagai martir Kristus dan kepadanya dipersembahkan sebuah Gereja di Via Nomeritana.
Konon beliau adalah seorang imam di Roma pada masa pemerintahan Kaisar Domisianus. Ia dipenggal kepalanya karena menguburkan jenazah Santa Felicula. Jenazahnya sendiri dimakamkan di gereja Santa Praksedis di Roma.

 

 
Diambil dari:
http://liturgia-verbi.blogspot.co.id/
https://www.facebook.com/groups/liturgiaverbi

Leave a Reply

*

captcha *