Hari Biasa, Pekan Biasa VII Jumat, 1 Maret 2019

Liturgia Verbi (C-I)
Hari Biasa, Pekan Biasa VII

Jumat, 1 Maret 2019

Ujud Misi/Evangelisasi – Pengakuan hak komunitas-komunitas Kristiani.
Semoga komunitas-komunitas Kristiani, terutama mereka yang teraniaya, dapat merasakan kedekatan dengan Kristus dan mengalami bahwa hak-hak mereka sungguh dihormati.

Ujud Gereja Indonesia – Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden.
Semoga dalam menggunakan hak pilihnya pada Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden Baru, semua warga negara mengutamakan hati nuraninya, serta tetap berusaha menjaga kerukunan dan tidak tergoda oleh bujukan politik uang.


Bacaan Pertama
Sir 6:5-17

“Sahabat yang setia tiada ternilai.”

Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh:

Tutur kata yang manis mendapat banyak sahabat,
dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut.
Mudah-mudahan banyak orang berdamai denganmu,
tetapi dari antara seribu hanya satu saja menjadi penasehatmu.
Jika engkau mau mendapat sahabat, ujilah dia dahulu,
dan jangan segera percaya padanya.
Sebab ada orang yang bersahabat hanya selama menguntungkan,
tetapi di kala engkau mendapat kesukaran, ia tidak bertahan.

Ada juga sahabat yang berubah menjadi musuh,
lalu menistakan dikau
dengan menceriterakan percekcokanmu dengan dia.
Ada lagi sahabat yang ikut serta dalam perjamuan makan,
tetapi tidak bertahan pada hari kemalanganmu.
Pada waktu engkau sejahtera ia sehati sejiwa dengan dikau
dan bergaul akrab dengan seisi rumahmu.
Tetapi bila engkau mundur ia berbalik melawan dikau
serta menyembunyikan diri terhadapmu.

Jauhilah para musuhmu,
dan berhati-hatilah terhadap para sahabatmu.
Sahabat yang setia merupakan pelindung yang kuat;
yang menemukannya, menemukan suatu harta.
Sahabat yang setia, tiada ternilai,
dan harganya tiada terbayar.

Sahabat yang setia laksana obat kehidupan;
hanya orang yang takwa akan memperolehnya.
Orang yang takwa memelihara persahabatan dengan lurus hati,
sebab sebagaimana ia sendiri, demikianpun sahabatnya.

Demikianlah sabda Tuhan.


Mazmur Tanggapan
Mzm 119:12.16.18.27.34.35,R:35a

Refren: Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu.

*Terpujilah Engkau, ya Tuhan;
ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

*Ketetapan-ketetapan-Mu akan menjadi sumber sukacitaku,
firman-Mu tidak akan kulupakan.

*Singkapkanlah mataku,
supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari hukum-Mu.

*Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu,
supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.

*Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang hukum-Mu;
dengan segenap hati aku hendak memeliharanya.

*Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu,
sebab aku menyukainya.


Bait Pengantar Injil
Yoh 17:17ab

Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran.
Kuduskanlah kami dalam kebenaran.


Bacaan Injil
Mrk 10:1-12

“Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus:

Pada suatu hari Yesus berangkat ke daerah Yudea
dan ke daerah seberang sungai Yordan.
di situ orang banyak datang mengerumuni Dia,
dan seperti biasa Yesus mengajar mereka.
Maka datanglah orang-orang Farisi hendak mencobai Yesus.
Mereka bertanya,
“Bolehkah seorang suami menceraikan isterinya?”
Tetapi Yesus menjawab kepada mereka,
“Apa perintah Musa kepada kamu?”
Mereka menjawab,
“Musa memberi izin untuk menceraikannya
dengan membuat surat cerai.”

Lalu Yesus berkata kepada mereka,
“Karena ketegaran hatimulah Musa menulis perintah untukmu.
Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka pria dan wanita;
karena itu pria meninggalkan ibu bapanya
dan bersatu dengan isterinya.
Keduanya lalu menjadi satu daging.
Mereka bukan lagi dua, melainkan satu.
Karena itu apa yang dipersatukan Allah,
janganlah diceraikan manusia.”

Setelah mereka tiba di rumah,
para murid bertanya pula tentang hal itu kepada Yesus.
Lalu Yesus berkata kepada mereka,
“Barangsiapa menceraikan isterinya
lalu kawin dengan wanita lain,
ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.
Dan jika isteri menceraikan suaminya
dan kawin dengan pria yang lain,
ia berbuat zinah.”

Demikianlah sabda Tuhan.


Kesetiaan

Renungan Injil
Perikop tentang perceraian dari Bacaan Injil hari ini telah sering dibahas dalam berbagai kesempatan.
Pernikahan Katolik itu bersifat monogami dan tak terceraikan.
Monogami artinya seorang laki-laki hanya boleh mempunyai satu orang istri saja dan seorang wanita hanya boleh dinikahi oleh seorang laki-laki saja.
Artinya, poligami ditentang.
Tak terceraikan artinya tidak boleh memutuskan untuk bercerai, karena pernikahan melalui Sakramen Perkawinan itu dipersatukan oleh Allah, maka hanya Allah yang dapat menceraikan, melalui kematian.

Berbagai persoalan dalam hidup berkeluarga rentan menimbulkan perbedaan, percekcokan dan mengarah ke perceraian.
Orang yang dulunya sangat kita cintai bisa jadi berubah menjadi orang yang kita benci.
Kalau mau jujur, siapa sesungguhnya yang berubah, apakah pasangan kita atau jangan-jangan kita yang mengubah pandangan sendiri, dari mencintai berubah menjadi membenci.

Saya tidak mengajak untuk berpolemik terhadap hal ini, karena masing-masing dari kita punya segudang alasan untuk membenarkan diri sendiri lalu menyalahkan pasangan.
Ada juga yang berusaha mengalah, daripada ribut melulu, tetapi tak ada upaya untuk mengatasi persoalan, sehingga pernikahan tidak lagi membawa mereka kepada kebahagiaan hidup berkeluarga.

Ada hal yang jauh lebih penting, yakni tentang kesetiaan.
Saya meyakini pandangan Yesus terhadap pernikahan ini bukan untuk menyusahkan kita, bukan untuk melarang-larang kita, melainkan untuk mengajari kita makna yang sesungguhnya dari kesetiaan.
Perselisihan suami-istri adalah pelatihan dan sekaligus ujian terhadap kesetiaan.
Sekali pun rumput tetangga nampak lebih hijau, kesetiaan mampu mencegah kita menyeberang ke tetangga.

Lalu timbul pertanyaan, bagaimana jika pasangan tidak setia?
Waduh, kesetiaan itu adalah urusan pribadi kita, tidak tergantung dari orang lain, termasuk dari pasangan kita.
Kalaju pasangan tidak setia, apakah itu artinya kita boleh juga tidak setia?
Artinya sama-sama tidak setia dong?

Lihatlah Allah Bapa kita.
Berulangkali kita tidak setia kepada-Nya, namun Bapa kita tetap setia.
Begitu jugalah hendaknya kita.


Peringatan Orang Kudus
Santo Felix III (II), Paus
Felix berasal dari sebuah keluarga berdarah Romawi. la menjadi paus menggantikan Paus Santo Simplisius pada tahun 483. la dinamakan Felix III (II) karena kira-kira pada tahun 365 ada seorang paus tandingan yang menamakan dirinya Felix lI.
Selama masa kepausannya, Felix menghadapi bidaah Monophysitisme yang menolak ajaran iman tentang kedwitunggalan kodrat Yesus Kristus: Ilahi sekaligus Manusiawi. Untuk memecahkan masalah itu, Kaisar Zeno mengeluarkan suatu rumusan kesatuan yang bermakna ganda, yang disebut Henotikon. Rumusan ini tidak disetujui baik oleh Sri Paus maupun oleh pengikut aliran bidaah Monophisitisme.
Demi pemecahan selanjutnya, Sri Paus Felix memanggil Acacius, Patriark Konstantinopel, penyusun rumusan itu. Acacius menolak datang ke Roma. Maka dia diekskomunikasikan oleh Felix III. Sejak berlakunya ekskomunikasi ini, skisma Acacian mulai tersebar dan terus berkembang hingga kematian Felix III pada tanggal 1 Maret 492.


Santo David, Pengaku Iman
David mungkin lahir di Cardigan, Wales, Inggris pada tahun 520 dari sebuah keluarga bangsawan. la terkenal sebagai seorang biarawan yang aktif mendirikan biara-biara: kurang lebih ada 12 biara yang didirikannya. Dari antara biara-biara itu, biara Menevia di bagian baratdaya Wales adalah biara pusat sekaligus menjadi tempat tinggalnya sebagai pimpinan tertinggi.
Dalam kedudukannya itu David memainkan peranan besar dalam perkembangan Gereja Keltik. Banyak perintis Gereja Irlandia dididik di Menevia; antara lain Santo Finnianus dari Clonard, yang dijuluki sebagai Bapa Monastik Irlandia. Ketenaran namanya pada zaman itu dapat dilihat dari begitu banyak gereja kuno – lebih dari 50 buah gereja – di bagian selatan Wales yang memilih dia sebagai pelindungnya. David meninggal dunia pada tahun 601 di Menevia. la digelari kudus pada tahun 1120 pada masa kepemimpinan Sri Paus Kalistus II (1119-1124), dan diangkat sebagai pelindung suci Wales.

Diambil dari:
http://liturgia-verbi.blogspot.co.id/
https://www.facebook.com/groups/liturgiaverbi

Leave a Reply

*

captcha *