Hari Biasa, Pekan Biasa XIV Senin, 4 Juli 2022

Liturgia Verbi (C-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XIV

Senin, 4 Juli 2022

PF S. Elisabet dari Portugal

 


Bacaan Pertama
Hos 2:13.14b-15.18-19

“Aku akan menjadikan dikau isteriku untuk selama-lamanya.”

Pembacaan dari Nubuat Hosea:

Inilah sabda Tuhan,
“Aku akan membujuk umat kesayangan-Ku
dan membawanya ke padang gurun,
dan berbicara menenangkan hatinya.
Di sana ia akan merelakan diri seperti pada masa mudanya,
seperti ketika ia berangkat keluar dari tanah Mesir.
Maka pada waktu itu, demikianlah firman Tuhan,
engkau akan memanggil Aku ‘Suamiku’,
dan tidak lagi memanggil Aku ‘Baalku’.

Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya,
dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku
dalam keadilan dan kebenaran,
dalam kasih setia dan kasih sayang.
Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan,
sehingga engkau akan mengenal Tuhan.”

Demikianlah sabda Tuhan.


Mazmur Tanggapan
Mzm  145:2-3.4-5.6-7.8-9,R:8a

Refren: Tuhan itu pengasih dan penyayang.

*Setiap hari aku hendak memuji Engkau,
dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya.
Besarlah Tuhan, dan sangat terpuji,
kebesaran-Nya tidak terselami.

*Angkatan demi angkatan akan memegahkan karya-karya-Mu
dan akan memberitakan keperkasaan-Mu.
Semarak kemuliaan-Mu yang agung akan kukidungkan,
dan karya-karya-Mu yang ajaib akan kunyanyikan.

*Kekuatan karya-karya-Mu yang dahsyat akan dimaklumkan,
dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan.
Kenangan akan besarnya kebaikan-Mu akan dimasyhurkan,
orang akan bersorak-sorai tentang keadilan-Mu.

*Tuhan itu pengasih dan penyayang,
panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.
Tuhan itu baik kepada semua orang,
dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.


Bait Pengantar Injil
2Tim 1:10b

Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut
dan menerangi hidup dengan Injil.


Bacaan Injil
Mat 9:18-26

“Anakku baru saja meninggal; tetapi datanglah, maka ia akan hidup.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Sekali peristiwa
datanglah kepada Yesus seorang kepala rumah ibadat.
Ia menyembah Dia dan berkata,
“Anakku perempuan baru saja meninggal,
tetapi datanglah, letakkanlah tangan-Mu atasnya,
maka ia akan hidup.”
Lalu Yesus pun bangun,
dan bersama-sama murid-murid-Nya mengikuti orang itu.
Pada waktu itu
seorang wanita yang sudah dua belas tahun lamanya
menderita pendarahan
maju mendekati Yesus dari belakang
dan menjamah jumbai jubah-Nya.
Karena katanya dalam hati,
“Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”

Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata,
“Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku,
imanmu telah menyelamatkan dikau.”
Maka sejak saat itu juga sembuhlah wanita itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu,
dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak yang ribut,
berkatalah Ia, “Pergilah! Karena anak ini tidak mati, tetapi tidur!”
Tetapi mereka menertawakan Dia.
Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk.
Dipegang-Nya tangan si anak, lalu bangkitlah anak itu.
Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

Demikianlah sabda Tuhan.


menjamah-jubah-yesus

Renungan Injil
Tuhan mengundang kita untuk bersama-sama-Nya menjalankan karya Tuhan di dunia ini, turut serta sebagai penyelenggara kehidupan dunia agar kasih sayang Kristus hadir secara nyata dalam kehidupan sehari-hari umat manusia sehingga keadilan dan kebenaran senantiasa keluar sebagai pemenang.
Tuhan mau kita senantiasa bergandeng-tangan, dan bersama-sama Tuhan melaksanakan misi penyelamatan umat manusia, agar tak ada satu pun yang tersisa dan tidak dapat masuk ke dalam Surga untuk menerima kehidupan kekal seperti yang telah dijanjikan sendiri oleh Allah.

Dan bahkan dalam nubuat Hosea pada Bacaan Pertama hari ini, Tuhan bermaksud menjalin relasi yang sedemikian intim dan berlangsung untuk selama-lamanya.
Begini yang difirmankan-Nya, “Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya, dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku
dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang.
Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal Tuhan.”
Tuhan tak akan ingkar janji, sebab kata ingkar janji itu tidak terdapat dalam perbendaharaan-Nya.
Tetapi kita, adalah sosok yang sangat rentan terhadap keinginan daging, sangat rentan terhadap bujuk-rayu iblis, sehingga berulang kali kita mengingkari janji setia dengan Tuhan, seringkali kita mengkhianati kasih setia dan kasih sayang-Nya.

Nah, dengan melibatkan diri dalam pelayanan, sesungguhnya kita sedang memelihara relasi kita dengan Tuhan, karena selalu bersama-sama dalam keseharian kita, melayani siapa saja yang memerlukan pertolongan dan kapan saja tanpa memperdulikan betapa berharganya waktu kita dan tanpa perlu pusing dengan kesusahan diri sendiri, seperti yang dipesankan oleh Yesus, “Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.” [Mat 10:10]

Dan Yesus juga telah berpesan, “Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” [Mat 18:5]
“Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.” [Mat 10:40]

Dan yang juga penting, pelayanan tidak dapat ditunda-tunda, apalagi sesempatnya.
Kita diminta untuk sigap, agar jangan sampai pertolongan malah datang terlambat.
Lihat saja pada Bacaan Injil hari ini, ketika seorang kepala rumah ibadat datang kepada Yesus, “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah, letakkanlah tangan-Mu atasnya.”
Maka tak pakai tar-sok tar-sok, lalu Yesus pun bangun, dan bersama-sama murid-murid-Nya mengikuti orang itu.

Dan yang tak kala pentingnya, kita tak perlu menunggu-nunggu kehadiran Tuhan saat melayani.
Tuhan tahu kapan akan hadir karena Roh Kudus memang ditugaskan untuk itu.
Kita mesti bergegas untuk memulai melayani, jangan menunggu kehadiran Roh Allah baru kita memulainya.
Lihatlah wanita yang telah 12 tahun lamanya menderita pendarahan pada Bacaan Injil hari ini.
Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan, tak pula “gambling” kalau sembuh iya syukur kalau tak sembuh iya apa boleh buat, tidak demikian.
Wanita itu punya keyakinan yang mantap di dalam hatinya, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”
Ia merasa tak perlu meminta ijin dari Yesus sebab tentunya ia percaya kalau Yesus tidak akan menolak permohonannya.

Sudahkah kita merencanakan pelayanan apa yang akan kita kerjakan minggu ini?


Peringatan Orang Kudus
Santa Elisabeth dari Portugal, Pengaku Iman
Puteri Raja Pedro III dari Aragon dan cucu Santa Elisabeth dari Hungaria ini lahir pada tahun 1271 dan meninggal dunia di Estremoz pada tanggal 4 Juli 1336. Ia dijuluki “Pembawa Damai” karena keberhasilannya menghentikan pertikaian antara raja-raja Castile, Aragon dan Portugal pada abad ke-14. Teladan hidupnya di kemudian hari menjadi contoh bagi para ibu rumah tangga, terlebih-lebih bagi mereka yang mengalami penderitaan batin karena ulah suaminya.
Pada usia 12 tahun ia dinikahkan dengan Raja Dionisius I dari Portugal, seorang raja yang rajin dan adil tetapi bejat dalam kehidupan pribadinya. Ia lekas cemburu dan tidak mempercayai kesetiaan isterinya, padahal ia sendiri tidak setia dan sering berbuat serong. Meskipun diliputi kebejatan moral suaminya, Elisabeth tetap teguh memegang prinsip-prinsip imannya. Setiap hari ia secara tetap berdoa memohon peneguhan Tuhan. la terkenal sebagai seorang permaisuri yang sederhana dalam hal makan-minum dan berpakaian. Kegiatan-kegiatan amalnya sangat luar biasa. Ia membantu wanita-wanita yang tidak kawin, menyiapkan penginapan kepada para peziarah dan mendirikan sejumlah lembaga amal, seperti sebuah rumah sakit di Coimbra, sebuah tempat penampungan bagi anak-anak yang terlantar, dan sebuah rumah bagi wanita-wanita pendosa yang bertobat. Di samping anak-anak kandungnya sendiri, ia juga merawat dan mendidik anak-anak suaminya yang lahir dari perkawinan gelapnya dengan wanita-wanita lain.
Kesucian hidup Elisabeth dan doa-doanya berhasil meluluhkan kekerasan Dionisius dan menghantarnya kepada pertobatan. Setelah bertobat, Dionisius rneninggal dunia pada tahun 1325. Sepeninggal Dionisius, Elisabeth menjadi seorang biarawati dalam Ordo Fransiskan di Coimbra. Sambil terus mengusahakan perdamaian di antara raja-raja Castile, Aragon dan Portugal. Elisabeth akhirnya menghembuskan nafasnya terakhir ketika sedang dalam suatu perjalanan misi untuk menghentikan suatu konflik yang melibatkan juga puteranya Raja Alfonso IV. la dimakamkan di kota Coimbra. Pada tahun 1625, ia digelari ‘kudus’ oleh Gereja.

Santo Ulrich atau Ulrikus, Uskup
Uskup dan sahabat Kaisar Jerman ini lahir pada tahun 890. Ia berusaha membangun sebuah tembok batu alam untuk melindungi kota Augsburg, Jerman dari serangan bangsa Hun yang kemudian berhasil dipatahkan oleh tentaranya.
Sebagai Uskup, Ulrich mengadakan perjalanan keliling keuskupannya untuk berkotbah dan meneguhkan iman umatnya, serta menegakkan keadilan. Ia mendirikan sebuah Katedral dan membuka seminari serta mendukung pendirian biara-biara. Di setiap pelosok keuskupannya, ia mendirikan banyak gereja dan kapel supaya umat dapat beribadat dengan baik.

Diambil dari:
https://liturgia-verbi.blogspot.co.id/

Leave a Reply

*

captcha *