Hari Biasa, Pekan Biasa XXXII Jumat, 16 November 2018

Liturgia Verbi (B-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXXII

Jumat, 16 November 2018

PF S. Gertrud, Perawan
PF S. Margareta dari Skotlandia

 

 


Bacaan Pertama
2Yoh 1:4-9

“Barangsiapa setia kepada ajaran, dia memiliki Bapa maupun Putera.”

Pembacaan dari Surat Kedua Rasul Yohanes:

Hai Ibu yang terpilih, aku sangat bersukacita,
bahwa separuh dari anak-anakmu kudapati hidup dalam kebenaran,
yaitu sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa.
Maka sekarang aku minta kepadamu, ya Ibu
agar kita saling mengasihi.
Ini kutulis bukan seolah-olah merupakan perintah baru bagimu,
melainkan menurut perintah yang sudah ada pada kita sejak semula
yaitu supaya kita saling mengasihi.
Dan kasih itu berarti bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya.
Dan perintah itu ialah bahwa kalian harus hidup di dalam kasih,
sebagaimana telah kalian dengar sejak semula.

Banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.
Mereka tidak mengakui,
bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia.
Mereka itulah penyesat dan antikristus.
Waspadalah,
jangan sampai kalian kehilangan apa yang telah kami kerjakan.
Tetapi berusahalah agar kalian mendapat ganjaranmu sepenuhnya.

Setiap orang yang tidak setia pada ajaran Kristus,
tetapi menyimpang daripadanya,
dia tidak memiliki Allah.
Barangsiapa setia kepada ajaran itu,
ia memiliki Bapa maupun Putera.

Demikianlah sabda Tuhan.


Mazmur Tanggapan
Mzm 119:1.2.10.11.17.18,R:1b

Refren: Berbahagialah orang yang hidup menurut hukum Tuhan.

*Berbahagialah orang yang hidupnya tidak bercela,
yang hidup menurut Taurat Tuhan.

*Berbahagialah orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya,
yang mencari Dia dengan segenap hati.

*Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau,
jangan biarkan aku menyimpang dari perintah-Mu.

*Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu,
supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.

*Lakukanlah kebajikan kepada hamba-Mu ini, supaya aku hidup,
dan aku hendak berpegang pada firman-Mu.

*Singkapkanlah mataku,
supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari hukum-Mu.


Bait Pengantar Injil
Luk 21:28

Angkatlah mukamu, sebab penyelamatmu sudah mendekat.


Bacaan Injil
Luk 17:26-37

“Kapan Anak Manusia akan menyatakan diri.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,
“Sebagaimana halnya pada zaman Nuh,
demikian pula kelak pada hari Anak Manusia.
Pada jaman Nuh itu
orang-orang makan dan minum, kawin dan dikawinkan,
sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera.
Lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.

Demikian pula yang terjadi pada zaman Lot.
Mereka makan dan minum,
membeli dan menjual, menanam dan membangun,
sampai pada hari Lot pergi dari Sodom.
Lalu turunlah hujan api dan belerang dari langit
dan membinasakan mereka semua.
Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia menyatakan diri.

Pada hari itu barangsiapa sedang ada di peranginan di atas rumah,
janganlah ia turun untuk mengambil barang-barangnya di dalam rumah.
Demikian pula yang sedang di ladang, janganlah ia pulang.
Ingatlah akan isteri Lot!
Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya,
ia akan kehilangan nyawanya,
dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.

Aku berkata kepadamu:
Pada malam itu kalau ada dua orang di atas ranjang,
yang satu akan dibawa dan yang lain ditinggalkan.
Kalau ada dua orang wanita yang sedang bersama-sama mengilang,
yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”

Para murid lalu bertanya, “Di mana, Tuhan?”
Yesus menjawab,
“Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.”

Demikianlah sabda Tuhan.


Saling Mengasihi

Renungan Injil
Rasul Yohanes melihat banyak penyesat yang bermunculan di mana-mana.
Yohanes memandang perlu untuk mengingatkan umat agar jangan sampai disesatkan oleh para antikristus ini, jangan sampai meninggalkan Tuhan untuk menjadi bagian dari penyesatan itu sendiri.

Perintah untuk saling mengasihi hendaknya menjadi pegangan hidup.
Kita harus hidup di dalam kasih, itulah perintah Tuhan yang telah disampaikan sejak semula dan masih berlaku sampai sekarang.

Hidup dalam kasih itu tidak dapat direkayasa, tidak bisa dengan berbasa-basi apalagi dengan kepura-puraan supaya nampak baik di hadapan orang.
Hidup dalam kasih itu bukan akting sebuah drama, bukan bersandiwara supaya terlihat baik.
Jika ini yang terjadi, sesungguhnya kita sedang mengelabui diri kita sendiri, mengabaikan atau malah menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan diri agar tidak menimbulkan celaan atau cercaan orang.
Tidak demikian.
Mengasihi boleh dilakukan oleh orang baik maupun yang kurang baik.
Mengasihi itu bukan hak melainkan kewajiban, itulah ajaran Kristus.
Sekali pun kita masih memiliki kelemahan ataupun masih gemar menabung dosa, bukan berarti kita dibebaskan dari kewajiban untuk saling mengasihi.

Sebaliknya, ajaran kasih tidak serta-merta membuat kita dipisahkan dari yang bukan kasih.
Bulir gandum dan batang ilalang dibiarkan tumbuh bersama sampai saatnya panen tiba.
Kita tidak dibenarkan untuk mengasihi orang baik dan memusuhi orang jahat.
Mengasihi itu tanpa syarat, kepada siapa saja, dan bahkan akan lebih baik kalau kita mengikuti jejak Yesus yang berkata, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” [Mrk 2:17b]

Perikop dari Surat Kedua Rasul Yohanes tentang ajaran kasih ini sesungguhnya terdiri dari 8 ayat, tetapi entah mengapa, dua ayat terakhir tidak dikutip, barangkali karena cukup kontroversial.
Inilah kedua ayat yang saya maksudkan, “10. Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.
11. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.”

Terkesan fanatik, menolak yang berkeyakinan lain, menolak yang beragama lain.
Kita diminta untuk menolak orang yang tidak membawa ajaran Kristus.
Seperti inilah jadinya kalau hidup kita dipenuhi oleh rekayasa, menjadi mudah dikotak-kotakkan, dan toleransi pun terkikis.
Rasul Yohanes khawatir kalau berbaur dengan para penyesat bisa jadi kita akan tertular menjadi sesat.
Nampaknya ini yang mendasari larangan Rasul Yohanes, khawatir kalau kita disesatkan.
Tetpi Yohanes tidak mengatakan “agama lain”, kita saja yang menafsirkan demikian.
Yang dimaksud oleh Yohanes sebagai “ajaran ini” adalah kasih, bukan agama tertentu.
Artinya, jika orang datang kepada dengan membawa kasih, masakan hendak kita tolak?   Bukankah ia datang dengan membawa ajaran Kristus?

Nah, menjadi penting kita tetap menjaga diri agar tidak menjadi fanatik secara membabi-buta (babi buta berjalan tabrak sana – tabrak sini, tak tentu arah).
Semestinya “kemasan” tak menjadi masalah, yang penting kandungan di dalamnya sama, yakni kasih Kristus.
Jika kita membeli obat atau vitamin, tidaklah penting apakah yang tablet atau yang sirup, karena yang penting adalah apa yang terkandung di dalamnya.
Jangan lagilah kita mencela orang lain yang berbeda, sekalipun menurut kita ia sedang tersesat atau ia seorang penyesat.
Justru sepatutnyalah kita membantu orang-orang yang tersesat untuk kembali ke kandang Yesus, Sang Penggembala Agung kita.


Peringatan Orang Kudus
Santa Gertrudis dari Hefta, Perawan
Gertrudis lahir di Eisleben, Jerman pada tahun 1256. Sejak berusia lima tahun, ia diserahkan orang-tuanya kepada para suster di Hefta, Jerman Utara. Di dalam biara itu ia dibesarkan dan dididik, kemudian menjadi suster dan rupanya tidak pernah keluar dari biara itu lagi. Guru dan sahabatnya ialah Suster Mechtildis, yang kelak dinyatakan juga sebagai ‘Santa’. Tentang Suster Mechtildis, Gertrudis mengatakan: “Belum pernah saya melihat orang yang menyerupai dia di dalam biara kami ini, dan mungkin tak pernah akan ada.”
Gertrudis mengenyam pendidikan tinggi dan terkenal sangat cerdas. Ia fasih berbicara bahasa Latin. Teman-temannya sebiara mengatakan bahwa dalam akal budinya tak ada suatu kesalahan dan dalam hatinya tak terlintas segumpal awan mendung kedukaan. Semuanya itu dimungkinkan oleh karena hidup rohaninya terpelihara dengan baik dalam persatuan erat dengan Kristus. Sewaktu berusia 20 tahun ia diperkenankan melihat Yesus dalam suatu penampakan. Semenjak itu ia mencurahkan seluruh jiwa-raganya pada hidup kontemplatif. Baginya, segala daya tarik pengetahuan duniawi telah terkubur dalam-dalam. Seluruh perhatiannya ia curahkan pada Kitab Suci, karya para pujangga Gereja dan perayaan ibadat. Hidupnya penuh dengan pengalaman rohani yang berturut-turut dikaruniakan Tuhan kepadanya. Banyak di antaranya dapat dibaca dalam suatu kumpulan karangan yang sebagian ditulis berdasar catatan, diktat dan hasil tulisan Gertrudis sendiri. Buku ini menyumbang banyak bagi kehidupan rohani di Abad Pertengahan. Buah pena itu amat menarik. Sebab, orang akan melihat bagaimana Gertrudis merintis penghormatan kepada Hati Kudus Yesus, yang sekarang ini sangat merata dan lazim dilakukan oleh umat Kristen Katolik di mana-mana. Itulah sebabnya Gertrudis kadang-kadang disebut juga ‘Gertrudis Agung’.
Gertrudis terkenal kebaktiannya kepada Hati Kudus Yesus dan Santo Yosef, serta tekun merenungkan sengsara Yesus. Ia sering menyambut Ekaristi Kudus, walaupun pada masa itu hal ini tidak biasa. Ia pun rajin mendoakan Jiwa-jiwa di Api Penyucian. Ia meninggal dunia pada tahun 1302.


Santo Rochus Gonzales dkk, Martir
Rochus adalah imam Yesuit pribumi dari Paraguay, Amerika Selatan yang bekerja giat di antara suku-suku Indian. Bersama dengan Bruder Alfonsus Rodriguez, ia dibunuh oleh orang-orang yang tidak menghendaki kemajuan bagi orang Indian Kristen. Dua hari kemudian, misionaris Yoanes del Castillo disiksa sampai mati lemas.

Diambil dari:
http://liturgia-verbi.blogspot.co.id/
https://www.facebook.com/groups/liturgiaverbi

Leave a Reply

*

captcha *