Hari Biasa, Pekan Biasa XIII Jumat, 5 Juli 2019

Liturgia Verbi (C-I)
Hari Biasa, Pekan Biasa XIII

Jumat, 5 Juli 2019

PF S. Antonius Maria Zaccaria, Imam

 


Bacaan Pertama
Kej 23:1-4.19;24:1-8.62-67

“Ishak sangat mencintai Ribka,
sehingga ia terhibur atas kematian ibunya.”

Pembacaan dari Kitab Kejadian:

Sara, isteri Abraham,  hidup seratus dua puluh tujuh tahun lamanya.
Kemudian Sara meninggal di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan.
Lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya.

Sesudah itu Abraham bangkit dan meninggalkan jenazah isterinya,
lalu berkata kepada orang-orang Het,
“Aku ini orang asing dan pendatang di antaramu.
Berikanlah kiranya kepadaku sebuah kuburan di tanahmu ini,
supaya aku dapat mengantarkan dan menguburkan isteriku yang telah meninggal.”
Sesudah itu Abraham menguburkan Sara, isterinya,
di dalam gua di ladang Makhpela, di sebelah timur Mamre,
yaitu Hebron di tanah Kanaan.

Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya,
serta diberkati Tuhan dalam segala hal.
Berkatalah Abraham
kepada hambanya yang paling tua di rumahnya,
yang diberi kuasa atas segala miliknya, katanya,
“Baiklah letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku,
supaya aku mengambil sumpahmu.
Demi Tuhan, Allah yang empunya langit maupun bumi,
janganlah engkau mengambil seorang isteri bagi anakku
dari antara wanita negeri Kanaan tempat aku tinggal ini.
Tetapi engkau harus pergi ke negeriku, kepada sanak saudaraku,
untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku.”
Lalu berkatalah hamba itu kepadanya,
“Mungkin wanita itu tidak suka mengikuti aku ke negeri ini?
Haruskah aku membawa anakmu ke negeri asal Tuanku itu?”
Abraham lalu berkata,
“Awas, jangan kaubawa anakku itu kembali ke sana!
Tuhan, Allah yang empunya langit,
telah memanggil aku dari rumah ayahku
dan dari negeri sanak saudaraku.
Ia telah bersabda dan bersumpah kepadaku,
‘Negeri ini akan Kuberikan kepada keturunanmu.’
Dialah yang akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depanmu,
sehingga engkau dapat mengambil seorang isteri dari sana untuk anakku.
Tetapi jika wanita itu tidak mau mengikuti engkau,
maka bebaslah engkau dari sumpahmu kepadaku ini.
Hanya saja, janganlah anakku kaubawa kembali ke sana.”

Beberapa waktu kemudian Ishak datang
dari arah sumur Lahai-Roi;
ia tinggal di Tanah Negeb.
Menjelang senja Ishak keluar untuk berjalan-jalan di padang.
Ia melayangkan pandangannya,
dan melihat ada unta-unta datang mendekat.
Itulah hamba Abraham yang kembali dari negeri tuannya
dan membawa serta Ribka, calon isteri Ishak.
Ribka juga melayangkan pandangannya dan melihat Ishak.
Segera Ribka turun dari untanya dan bertanya
kepada hamba Abraham,
“Siapakah orang yang berjalan di padang menuju kita itu?”
Jawab hamba itu, “Dialah tuanku.”
Lalu Ribka mengenakan telekungnya dan menyelubungi diri.

Kemudian hamba itu menceritakan kepada Ishak
segala yang dilakukannya.
Maka Ishak mengantar Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya,
dan mengambil dia menjadi isterinya.
Ishak mencintai Ribka, sehingga ia terhibur atas kematian ibunya.

Demikianlah sabda Tuhan.


Mazmur Tanggapan
Mzm 106:1-2.3-4a.4b-5,R:1a

Refren: Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik!

*Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik!
Kekal abadi kasih setia-Nya.
Siapakah yang dapat memberitahukan keperkasaan Tuhan,
dan memperdengarkan segala pujian kepada-Nya?

*Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum,
yang melakukan keadilan di setiap saat!
Ingatlah akan daku, ya Tuhan,
demi kemurahan terhadap umat.

*Perhatikanlah aku, demi keselamatan yang datang dari pada-Mu,
supaya aku melihat kebahagiaan orang-orang pilihan-Mu,
supaya aku bersukacita dalam sukacita umat-Mu,
dan supaya aku bermegah bersama milik pusaka-Mu.


Bait Pengantar Injil
Mat 11:28

Datanglah pada-Ku, kalian yang letih dan berbeban berat,
maka Aku akan membuat kalian lega.


Bacaan Injil
Mat  9:9-13

“Bukan orang sehat yang memerlukan dokter;
Aku menginginkan kasih sayang, bukan persembahan.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Pada suatu hari Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai.
Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”
Matius segera berdiri dan mengikut Yesus.

Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Matius,
datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa,
makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.
Melihat itu orang-orang Farisi berkata kepada murid-murid Yesus,
“Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Yesus mendengarnya dan berkata,
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib,
tetapi orang sakit.
Maka pelajarilah arti sabda ini,
‘Aku menginginkan belas kasihan, bukan persembahan.’
Aku datang bukannya untuk memanggil orang benar,
melainkan orang berdosa.”

Demikianlah sabda Tuhan.


bukan kita memilih Yesus

Renungan Injil
Masih tentang panggilan untuk mengikuti Yesus, dari Bacaan Injil hari ini kita akan merenungkan panggilan yang diterima oleh Matius, seorang pemungut cukai, untuk meninggalkan pekerjaannya lalu mengikuti Yesus.

Hal yang menarik dari peristiwa panggilan Matius ini adalah soal respon yang mantap dan segera dari Matius menjawab panggilan Yesus.
Ia segera berdiri dan mengikut Yesus, tak pakai tunda-tunda.
Mengapa Matius merespon dengan segera panggilannya?
Pemungut cukai tidak disukai oleh orang Yahudi dan seringkali disamakan dengan pendosa.
Apa tidak salah Yesus kok memilih dia?
Sangat mungkin sebelumnya Matius telah mendengar perihal Yesus dan bisa jadi ia menjadi kagum dengan sosok Yesus, tetapi karena profesinya sebagai pemungut cukai, ia tak berani berharap banyak lalu memilih untuk duduk-duduk saja di rumah cukai.
Sungguh tak disangka-sangka, Yesus datang dan berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”

Marilah kita belajar dari pengalaman Matius ini.
Bukan kita yang memilih Yesus, melainkan Yesus lah yang memilih kita.
Maka dari itu, janganlah kita yang memutuskan sendiri, misalnya dengan bersikap skeptis seperti yang diperbuat oleh Matius.
Yesus bisa memilih dan memanggil siapa saja, termasuk kita.
Malahan, jika kita percaya akan kebenaran Kristus, sudah sepantasnyalah kita berharap serta menunggu-nunggu panggilan itu datang kepada kita.
Tidak sepantasnya kita “menghakimi diri sendiri” dengan beranggapan bahwa kita adalah orang berdosa, tak pantas untuk mengikuti Yesus.
Sudah jelas yang disampaikan oleh Yesus, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.
Aku datang bukannya untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”


Peringatan Orang Kudus
Santo Antonius Maria Zakaria, Pengaku Iman
Hidup Antonius sangat singkat namun benar-benar dihayati dan diisi dengan berbagai perbuatan amal-kasih dan karya-karya demi menegakkan martabat Gereja dan kemuliaan Kristus. Ia lahir di Cremona, Italia Utara pada tahun 1502.
Ketika menginjak usia remaja, orang-tuanya menyekolahkan dia di kota kelahirannya. la kemudian melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Padua. Setelah menamatkan studinya, ia kembali bekerja di Cremona. Sebagai seorang dokter, ia berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan banyak orang sakit. Di samping itu sebagai seorang cendekiawan beriman, ia memberi nasihat-nasihat rohani kepada orang-orang yang dirawatnya dan mengajak mereka untuk berdoa bersama. Antonius selalu berusaha agar mereka yang mendekati ajalnya sedapat mungkin meninggal dunia dengan tenang dalam keadaan ber-rahmat. Semua orang terutama para pasiennya sangat menyayangi dia karena semangat pengorbanannya yang tak mengenal lelah.
Sementara itu, minatnya untuk mengabdikan diri semata-mata pada Tuhan dan sesama semakin kuat dalam hatinya. la sadar bahwa Tuhan memanggilnya untuk suatu tugas suci bagi kemuliaan namaNya. Untuk itu, Antonius belajar teologi untuk lebih dalam mengenal ajaran-ajaran iman. la kemudian ditahbiskan menjadi imam dan berkarya di tempat asalnya. Semangat pengabdiannya dibakar oleh cinta kasihnya yang tulus kepada Allah dan sesama dan dihiasi semangat hidup miskin dan tapa.
Situasi Gereja pada zaman itu tidaklah menyenangkan. Banyak umat hidup tidak sesuai dengan imannya. Demikian juga banyak imam. Setelah beberapa tahun bekerja di Cremona, ia pindah ke Milano. Rencananya sederhana namun jelas dan terang, yakni merasul dengan keteladanan hidup yang baik dan suci demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan umat. Untuk mengembalikan imam-imam kepada penghayatan panggilan imamatnya secara murni, Antonius memprakarsai pertemuan rohani berkala dengan imam-imam. Sedangkan untuk mengembalikan semangat iman umat, ia menggalakkan usaha pengajaran iman bagi umat.
Bersama dua orang rekannya: Bartolomeus Ferrari (seorang ahli hukum) dan Yakoppo Antonius Morigia (seorang ahli ilmu pasti), Antonius mendirikan sebuah tarekat apostolis. Anggota-anggota dari tarekat baru ini mengikuti jejak Rasul Paulus. Aturan hidup mereka didasarkan pada Surat-surat Santo Paulus. Oleh karena itu, mereka dinamakan Imam-imam Reguler Santo Paulus. Mereka juga dinamakan Imam-imam Barnabit, karena gereja Paroki mereka di Milano berpelindungkan Santo Barnabas. Tarekat mereka ini menyelenggarakan juga pendidikan ketrampilan untuk para pemudi dan menggerakkan mereka untuk melakukan karya-karya karitatif bagi orang-orang miskin dan terlantar. Dalam usaha pendidikan ini, Antonius dibantu oleh Datu Torelli, seorang janda yang bersemangat rasul. Dari taman pendidikan ini lahirlah kemudian Tarekat Suster-suster Angelika.
Semangat pengabdian Antonius pada sesama tampak jelas ketika kota Milano diserang wabah penyakit Pes, yang menelan banyak jiwa. Dalam situasi ini, Antonius bersama imam-imamnya dan puteri-puteri asuhannya tanpa mengenal lelah merawat para korban penyakit ganas itu. Mereka bahkan pergi jauh ke luar kota untuk menolong para korban penyakit itu sambil mewartakan Sabda Tuhan.
Antonius dikenal luas di kalangan rekan-rekannya sebagai seorang imam yang sederhana dan suci hidupnya. Ia lebih senang tetap menjadi seorang imam biasa agar lebih bebas untuk melayani umat. Oleh karena itu jabatan superior jenderal untuk tarekatnya dipercayakan kepada orang lain. Ia meninggal dunia pada tanggal 5 Juli 1539 dalam usia 37 tahun. Dalam usia semuda itu, tenaganya benar-benar terkuras habis demi kemuliaan Tuhan dan martabat Gereja. Oleh Paus Pius IX (1846 – 1878), Antonius dinyatakan sebagai ‘beato’ pada tahun 1849 dan oleh Paus Leo XIII (1878-1903), ia dinyatakan ‘santo’ pada tahun 1897.

Diambil dari:
http://liturgia-verbi.blogspot.co.id/
https://www.facebook.com/groups/liturgiaverbi

Leave a Reply

*

captcha *